![]() |
| Ibu - ibu sedang memasak lamang |
Malamag,
memasak beras pulut yang dimasukkan dalam sebatang bambu Aur (aua ,dalam bahasa
minang) yang biasa dilaksanakan pada setiap masuk bulan baiak (besar) didalam
tradisi minang. Tradisi ini turun temurun telah dilaksanakan oleh masyarakat
minang. Menjelang masuk ramadhan, pada bulan maulud (bulan kelahiran Nabi
Muhammad), peringatan isra’ mi’rat Nabi Muhammad SAW. Selain pada bulan – bulan
tersebut, malamang juga dilakukan pada prosesi 3 hari meninggal, 7 hari dan 14
serta 100 hari peringatan meninggal seseorang kerabat di adat minang kabau.
Malamang
ini bisa ditemukan di seluruh nagari yang ada di Sumatera Barat. Seperti
umumnya di kabupaten Pesisir Selatan, pinggiran kota Padang, Pariaman dan
Padang Pariaman serta daerah lainnya yang ada di ranah minang.
Selain
dari bahan baku beras ketan (puluik, dalam bahasa minang), lamang juga di buat
dari berbagai bahan makanan lannya seperti dari pisang, ubi dan lain sebagainya.
Dengan campuran santan dari perasan kelapa dan racikan khusus peracik lamang
menjadi daya Tarik tersendiri bagi penikmat lamang.
Lamang
juga bisa juga didapat dipasar tradisional selain pada bulan yang disebutkan
diatas. Dipasar – pasar biasanya lamang dikombinasikan dengan tapai (ketan
hitam yang diragikan). Penikmat lamang akan ketagihan jika memakan lamang
dengan campuran tapai, karena selain menjadi makanan wajib dikala memasuki
bulan ramadhan, lamang sudah menjadi makanan wajib dalam berbagai acara dan
pertemuan dalam adat minang kabau.
Di
Pesisir Selatan, melamang rutin dilaksanakan pada saat memasuki bulan Ramadhan,
seperti bulan sekarang yang sebentar lagi akan memasuki ramadhan. Disetiap
rumah penduduk akan terlihat prosesi memasak lamang pada 2 atau 3 hari
menjelang awal ramadhan begitu juga dengan 2 atau 3 hari menjelang lebaran.


No comments:
Post a Comment